Artikel ini ditulis oleh Widya Ratna Wulan, S.KM., M.KM, Dosen Progdi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Universitas Dian Nuswantoro

Berbicara tentang Pandemi COVID-19 tentunya setiap orang mempunyai harapan untuk dapat tetap hidup sehat dan aman. Namun pada kenyataannya diantara masyarakat masih terdapat ketidaktahuan tentang bagaimana cara melakukan hidup sehat dan aman di masa pandemi. Pertanyaannya faktor apa saja yang harus dilakukan agar tetap aman dan sehat, bagaimana tips dan trik nya dalam penangan berkas medis terkait COVID-19 di fasilitas pelayanan Kesehatan khususnya.

Berdasarkan hasil penelitian dari Dr. Rajeev Jayadevan pada April 2020 menggambarkan bahwa 1.731 orang tenaga medis (dokter dan perawat) di dunia meninggal dunia akibat COVID-19, dan Indonesia pun telah kehilangan 50 orang dokter dan perawat akibat wabah COVID-19 sebagai garda terdepan.

Usia kematian pasien COVID-19 bukan saja terjadi pada lansia tetapi juga pada usia lebih kurang 25 tahun termasuk pada tenaga medis maupun kesehatan di Rumah Sakit. Kematian sebenarnya dapat dicegah jika PPI di Rumah Sakit tersebut dijalankan dan penggunaan APD dijalankan dengan benar terutama masker bedah, pelindung wajah, baju apron, dan sarung tangan untuk menutup celah distribusi penularan COVID-19 antar petugas kesehatan. Meskipun belum ada riwayat kematian pada tenaga Kesehatan lain salah satunya Petugas Rekam Medis, namun penularan antar petugas dapat terjadi dengan tanpa tanda dan gejala dari pertemuan berulang di ruangan yang tertutup, serta dengan jumlah petugas kesehatan dan pasien positif yang tidak seimbang.

Pencegahan penularan COVID-19 di Rumah sakit antar petugas kesehatan bisa saja terhambat dikarenakan minimnya stok APD yang ada akibat terjadinya penimbunan dan penyalahgunaan APD sehingga Rumah Sakit kesulitan memperoleh APD dan terjadi cros kontaminasi terhadap petugas. Data dari WHO menunjukkan bahwa estimasi kebutuhan APD pada petugas kesehatan adalah 89 juta masker medis/masker bedah, sarung tangan 76 juta dan kacamata pelindung 1,6 juta per bulan Data estimasi didapatkan per Januari 2020 yang selanjutnya dipastikan akan terus meningkat selaras dengan jumlah pasien yang juga meningkat.

COVID-19 seperti kita ketahui menular melalui droplet atau percikan dimana saat pasien positif COVID-19 berbicara akan ada 1000 kuman terpercik, saat batuk 3000 kuman, dan saat bersin terdapat 4000 kuman yang terpercik di udara dan menempel di benda mati dengan jarak 1 sampai 2 meter. Pencegahan risiko penularan melalui percikan droplet ini tentunya dapat dilakukan dengan menggunakan masker bedah pada petugas kesehatan dan pasien ketika dilakukan penanganan. Rantai infeksi virus COID-19 antar petugas dengan pasien juga dapat diputus dengan menerapkan kewaspadaan transmisi droplet yaitu dengan melakukan etika batuk menggunakan masker bedah, face shield, cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, serta menjaga jarak minimal 1-2 meter.

Risiko yang terjadi pada Tenaga Rekam Medis di Rumah Sakit walaupun sedikit kontak langsung dengan pasien positif, namun virus dapat ditularkan antar kontak petugas sehingga dapat dicegah dengan pemakaian APD sama seperti petugas medis lainnya, menjaga kebersihan permukaan lingkungan/ peralatan benda yang dipakai, contohnya adalah computer dalam penginputan data Rekam Medis dan distribusi Data Rekam Medis (paper) dengan menggunakan alkohol 70%, serta melepas sarung tangan saat penggunaan computer setelah kontak dengan pasien atau antar petugas. Sehingga peralatan yang dipakai tidak terkontaminasi dari sarung tangan yang dipakai.

Standar kewaspadaan pencegahan penyebaran kuman di tempat pelayanan kesehatan di tengah masyarakat pada petugas kesehatan adalah kebersihan tangan karena tangan merupakan alat utama bagi pekerjaan tenaga kesehatan dan tangan menjadi kunci mata rantai penularan COVID-19. Terdapat beberapa rekomendasi dari WHO untuk mengoptimalkan penggunaan APD pada Tenaga Rekam Medis, yaitu :

  1. Meminimalkan kebutuhan APD. Dokumen Rekam Medis pasien berada di nurse station kecuali di ruang isolasi ICU dan petugas Rekam Medis melakukan kebersihan tangan atau menggunakan sarung tangan bersih saat menuliskan DRM, serta saat selesai tindakan.
  2. Menggunakan telemedicine untuk melakukan evaluasi perkembangan klinis pasien terduga infeksi COVID-19.
  3. Rekam Medik Elektronik (RME) dapat meminimalisir risiko tinggi dikarenakan perangkat computer lebih mudah dibersihkan dengan disinfektan dibandingkan dengan kertas. Upaya paper less dan beralih pada RME menjadi salah satu upaya pencegahan transmisi melalui kertas pada Data Rekam Medis.
  4. Menggunakan barrier fisik seperti kaca atau jendela plastik. Intervensi ini dapat dilakukan pada tempat dimana pasien pertama kali diterima, yaitu di ruang triase, ruang pendaftaran (TPPRJ, TPPRI, TPPGD), UGD atau jendela ruang farmasi sebagai tempat pengambilan obat
  5. Membatasi petugas yang masuk ke ruang perawatan pasien COVID-19 per hari.
  6. Meminimalisir pengunjung/ tidak sama sekali untuk ruang isolasi
  7. Memastikan bahwa APD telah digunakan secara tepat dan rasional, yaitu APD yang digunakan harus berdasarkan pada risiko paparan virus (kontak atau droplet atau aerosol). Penggunaan APD yang berlebihan akan semakin mempersulit kecukupan ketersediaan APD
  8. Pengaturan shift jaga (setiap 3 jam) sebagai upaya meminimalisir kontak langsung dengan cara penggunaan intercome, CCTV, penggunaan handy talky (petugas dan pasien yang berada di ruang isolasi berada di dalam, namun petugas rekam medis di luar akan berkomunikasi dengan handy talky) sehingga petugas Rekam Medis tidak kontak langsung dengan pasien.
  9. Petugas Rekam Medis yang dalam klasifikasi WHO dikelompokkan di bagian admisi wajib menggunakan masker bedah, dan selalu melakukan kebersihan tangan setelah menyentuh Data Rekam Medis.

 

SUMBER : WEBINAR “PENANGANAN BERKAS REKAM MEDIS TERKAIT COVID-19 DI FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN” oleh RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo

gambar diambil dari :

Apa itu rekam medis

https://www.kajianpustaka.com/2018/11/tujuan-jenis-isi-dan-penyimpanan-rekam-medis.html

https://riaupos.jawapos.com/kesehatan/08/05/2020/231121/2-teori-penyebab-pasien-sembuh-covid19-bisa-positif-lagi.html